Brief Narration of Chemistry Class Journey in Highschool

Artikel ini saya susun untuk memenuhi tugas akhir. portofolio kelas XII.

Kimia merupakan salah satu mata pelajaran yang berkesan untuk saya. Pertemuan pertama dengan Bu Fika di kelas MPLS, kami mengenal dan menghafal alat-alat laboratorium. Tentu saja, hal-hal yang berkenaan dengan praktikum Kimia selalu terasa begitu menyenangkan.

First Impression saya terhadap Bu Fika adalah: Interaktif dan tegas. Bu Fika selalu mengajak siswanya berinteraksi demi mengasah kemampuan dan pola pikir kami. 

Memasuki kelas tetap, kelas 10 IPA 3. Hal pertama yang dilakukan adalah mengganti sampul buku tulis dengan warna emas, dan menempelkan simbol-simbol di kimia. Buku tulis Kimia menjadi salah satu favorit saya karna ini. Terlihat cantik dan menonjol dibandingkan buku-buku lain yang membosankan.

Teori yang pertama kami pelajari adalah seputar labolatorium dan Teori Atom.

menyenangkan karena diarahkan untuk menggambar simbol simbol kimia 🤫


Saya tidak ingat dengan jelas, kami belajar materi apa setelah Teori Atom dan Elektron Valensi/Bilangan Kuantum. Namun, ada saat dimana kami tidak mengerti cara membaca grafik kimia saat itu, dan guru kami kecewa. Rasa kecewa Bu Fika saat itu sampai kepada kami. Dan sampai saat ini membuat kami agak trauma dengan grafik; yang semoga dibalas dengan usaha keras untuk mempelajarinya.

Masuk ke hal paling menyenangkan soal kimia; praktikum! Praktikum kami di kelas 10 berkenaan dengan kepolaran senyawa. Tekan disini ntuk melihat hasil praktikum kami. Suasana lab saat itu sangat menyenangkan, rasa penasaran kami akan laboratorium kimia terpuaskan.

Sayangnya, kami tidak dapat melaksanakan praktikum lagi di semester dua. Huru-hara corona mewarnai bulan maret dan setelahnya. Karena itu, kami harus berpuas diri belajar kimia dengan Bu Fika dari rumah.

Walau begitu, tetap saja pembelajaran lebih sulit dipahami daripada di kelas. Hal ini tidak semakin mudah ketika memasuki kelas 11. Guru yang mengajar kami adalah Pak Surohman saat itu. Beliau baik dan toleran, sangat. Namun, harus disayangkan belajar dengan beliau tidak mendapat hasil yang optimal. Bahkan banyak dari kami (saya salah satunya) merasa tidak belajar apa-apa soal kimia, kalau dibandingkan dengan tahun ajaran sebelumnya. Bisa-bisanya kami melewatkan materi paling dasar di kimia—Stoikiometri?

Karena itu, saya berusaha mengejar materi lewat belajar mandiri. Namun tidak banyak yang dapat saya pahami sendirian. Akhirnya, saya bertanya pada pahlawan kelas kami; Aditya Farsha!!! Preach and standing applause untuk Adit, kalau nggak ada Adit, nggak tau deh saya belajar Kimia sesulit apa. Kami saling membantu antara materi Kimia dan Matematika. Terima kasih, ya, Adit!




Sekarang, kami sudah kembali belajar di kelas bersama-sama. Untungnya, pengajar Kimia baik Guru kami, Bu Fika, dan pembimbing Pendalaman Materi, Kak Vera, adalah orang-orang yang sangat eager untuk mengajar, membuat kami pun tergugah semangat belajarnya.

Terakhir, saya ingin mengucapkan Terima Kasih kepada Allah azza wa jalla, yang karenanyalah saya bisa sampai di tahap ini; persiapan menuju Perguruan Tinggi. Serta Orang Tua saya, Adik saya tercinta, Teman-teman sekelas saya—sigma, kalian keren!—serta Guru Kami, Bu Fika.

Terima kasih untuk semuanya <3 (Aduh kok nangis ya)










Comments