Kimia di Bidang Arsitektur
disusun oleh
Ariella Ilya Mauritania
XII IPA 4
192010081
SMAN 14 BEKASI
Arsitektur
Arsitektur merupakan ilmu dan seni dalam mendesain dan merancang bangunan dan struktur. Arsitektur bertujuan untuk menciptakan sebuah ruang untuk kebutuhan manusia. Desain dan rancangan seorang arsitek memiliki karakteristik tertentu yaitu kegunaan, kekokohan dan keindahan. Jadi, suatu bentuk yang dirancang oleh seorang arsitek haruslah memiliki fungsi dan juga memiliki nilai estetika.
(https://www.itb.ac.id/program-studi-sarjana-arsitektur)
Keilmuan Arsitektur tidak berdiri sendiri namun terkait dengan ilmu-ilmu lainnya. Arsitektur sendiri berkaitan erat dengan Interior dan Teknik Industri. Hal ini dikarenakan sebuah bangunan tidaklah berfungsi tanpa properti di dalamnya, sesuai dengan karakteristik kegunaan pada Arsitektur.
Pada artikel ini, saya akan membahas kaitan Ilmu Kimia dengan Arsitektur bangunan.
Hal yang akan saya sampaikan adalah bahwa dalam artikel ini, saya tidak akan membahas mengenai estetika, melainkan dua karakteristik lain pada Arsitektur yakni kekokohan dan kegunaan.
A. Sirkulasi Udara
Dalam sebuah bangunan, hal penting bagi manusia untuk mendapatkan sirkulasi udara yang baik. Karena itu, para Arsitek haruslah mengetahui penyebab sirkulasi udara yang buruk, dan mencegahnya. Salah satu penyebab sirkulasi udara buruk adalah Polutan kimia.
Polutan kimia merupakan polutan yang bersumber pada bahan kimia, seperti karbondioksida (CO2), formaldehid (HCHO) yang banyak dipakai sebagai bahan pengawet panel kayu seperti particle board, benzena, xilen dan toluen (BTX) yang sering digunakan sebagai bahan tinta spidol whiteboard serta cat/pernis, perkloroetilen sebagai salah satu bahan pembersih untuk dry clean pakaian.
Polutan kimia ini banyak yang berwujud gas dan sangat ringan, umumnya disebut dengan golongan Volatile Organic Compound (VOC). Menurut data dari EPA, VOC ini merupakan zat kimia yang berbahaya dan mempunyai efek buruk jangka pendek dan panjang. Tanpa kita ketahui, air freshener spray yang sering digunakan untuk menyegarkan ruangan ternyata mengandung banyak VOC yang berbahaya. Kadar bahwa VOC dapat menjadi 10 kali lipat jika berada di ruang yang tertutup dibandingkan dengan di ruangan terbuka.
Solusi yang paling mudah untuk memperbaiki kualitas udara dalam ruang adalah dengan cara:
• Tinggi plafon minimal 2.5 meter
• Suhu ruangan diatur antara 180 hingga 280 celsius. Bila lebih dari 280 harus menggunakan AC atau kipas angin.
• Kelembaban udara dalam ruang harus antara 40% hingga 60%. Bila kelembaban lebih dari 60% harus menggunakan dehumidifier dan bila kurang dari 40% harus menggunakan humidifier.
• Kadar debu total maksimal 0,15 mg/m3.
• Pertukaraan udara harus lancar dan mengupayakan ventilasi silang.
(https://www.uc.ac.id/library/kualitas-udara-dalam-ruang/)
B. Furniture
Sebuah bangunan tidaklah lengkap tanpa furniture atau mebel. Kekokohan suatu furniture ditentukan oleh bahan, perawatan, dan lingkungannya.
Pada mulanya furniture atau mebel rumah dibuat dengan menggunakan bahan kayu solid utuh. Selain lebih awet dan tahan lama, material kayu solid juga lebih tahan beban. Karena persediaan kayu yang semakin terbatas, sekarang ini orang banyak membuat furniture dengan menggunakan bahan baku alternatif yang biayanya lebih murah dan lebih ramah lingkungan. Sekarang ini, jenis kayu untuk furniture dari bahan solid semakin langka sehingga dari limbah industri kayu sendiri pun dimanfaatkan dan diolah menjadi kayu lapis, MDF, HDF, particle board baru kemudian dibuat menjadi mebel rumah.
(https://www.lamudi.co.id/journal/jenis-kayu-untuk-furniture/)
Namun, sebagian besar bahan baku furniture yang mengunakan papan buatan misalnya MDF, partikel board, blockboard mengandung formaldehyde.
Formaldehyde
Mudah menguap dan banyak digunakan di banyak produk untuk menjaga serangan jamur atau untuk membuat bahan tidak mudah terbakar. Bahan kimia ini berfungsi baik untuk bahan lem, tekstil, atau perekat lainnya.
Tidak mungkin apabila kita sama sekali terhindar, namun ada beberapa cara untuk mengurangi atau menghindari bahan kimia ini berada di rumah anda:
1. Sebisa mungkin belilah furniture yang berbahan baku kayu solid, terutama kayu yang tidak memerlukan proses kimia pengawetan kayu. Misalnya kayu jati, akasia dan lainnya.
2. Tanyakan kepada penjual mebel mengenai jenis MDF atau kayu lapis yang mereka gunakan apabila mebel yang anda inginkan terbuat dari papan buatan. Jenis E1 memiliki emisi rendah dan aman. Bahan ini lebih mahal dari MDF biasa.
VOC (Volatile Organic Compounds)
Bahan kimia ini berupa gas yang menguap dari bahan finishing untuk furniture. Jumlah emisi masing-masing jenis finishing berbeda.
Periksa lebih jeli jenis finishing yang pada furniture yang hendak anda beli, apakah menggunakan bahan minyak, solvent based, water based, atau material padat lainnya. Untuk mengetahui besar kecilnya emisi biasanya pabrik furniture atau cat akan mengirimkan contoh bahan untuk di lakukan test di laboratorium khusus.
Heavy metal
Artinya dalam bahasa Indonesia memang 'logam berat'. Terdapat lebih dari 30 jenis kimia logam berat (beberapa baik untuk kesehatan) dan di antaranya sangat berbahaya apabila tubuh dan darah kita mengandung terlalu banyak 'heavy metals'.
Bahan kimia tersebut antara lain: arsenic, cadmium, lead dan mercury.
Finishing furniture baik berupa cat duco atau oil mengandung 4 bahan kimia berbahaya tersebut. Anda juga bisa temui pada tekstil, misalnya kain jok kursi.
PVC (Polyvinyl Chloride)
Lihatlah pada material selain kayu misalnya plastik, apakah terdapat label jenis plastik atau PVC? Terutama anak-anak paling sensitif dengan jenis kimia PVC. Apabila PVC dibakar akan mengeluarkan kimia yang bisa mengakibatkan kanker.
Selain itu di dalam seluruh proses produksinya PVC cukup berpotensi merusak lingkungan karena tidak bisa didaur ulang.
(https://www.tentangkayu.com/2011/02/kenali-bahan-kimia-furniture-anda.html?m=1)
C. Beton
Secara umum material beton yang digunakan pada konstruksi terdiri atas semen, air, pasir (agregat halus) dan kerikil (agregat kasar) yang dicampur dengan perbandingan tertentu dan untuk menghasilkan kekuatan tertentu pula.
Selain kualitas dan gradasi agregat halus dan kasar, kualitas beton yang dibuat juga bergantung pada nilai perbandangan berat penggunaan air dengan semen, yang disebut sebagai faktor air semen (fas). Nilai fas ini juga akan mempengaruhi tingkat kemudahan pengerjaan (workability) dari beton yang dibuat.
Disamping itu, untuk keperluan tertentu terkadang campuran beton tersebut masih ditambahkan bahan tambah berupa zat-zat kimia tambahan (chemical additive) dan mineral/material tambahan. Zat kimia tambahan tersebut biasanya berupa serbuk atau cairan yang secara kimiawi langsung mempengaruhi kondisi campuran beton. Sedangkan mineral/material tambahan berupa agregat yang mempunyai karakteristik tertentu. Penambahan zat-zat kimia atau mineral tambahan ini diharapkan dapat merubah performa dan sifat-sifat campuran beton sesuai dengan kondisi dan tujuan yang diinginkan, serta dapat pula sebagai bahan pengganti sebagian dari material utama penyusun beton.
Berdasarkan tujuan yang diharapkan terdapat beberapa tujuan penggunaan zat kimia diantaranya yaitu a) Zat kimia untuk mengurangi penggunaan air pada beton (water reduction). Hal ini dimaksudkan agar diperoleh adukan dengan nilai fas yang tetap dengan kekentalan yang sama atau dengan fas tetap, tapi didapatkan adukan beton yang lebih encer. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh kuat tekan yang lebih tinggi, dengan tidak mengurangi kekentalannya, atau diperoleh beton dengan kuat tekan yang sama, tapi adukan dibuat menjadi lebih encer agar lebih memudahkan dalam penuangan.
• b) zat kima untuk memperlambat proses ikatan campuran beton (retarder). Biasanya diperlukan untuk beton yang tidak dibuat dilokasi penuangan beton. Proses pengikatan campuran beton sekitar 1 jam. Sehingga apabila sejak beton dicampur sampai penuangan memerlukan waktu lebih dari 1 jam, maka perlu ditambahkan zat kimia ini. Zat tambahan ini diantarannya berupa gula, sucrose, sodium gluconate, glucose, citric acid, dan tartaric acid.
• c) zat kimia untuk mempercepat ikatan dan pengerasan campuran beton (accelerators). Diperlukan untuk mempercepat proses pekerjaan konstruksi beton, pencampuran beton dilakukan di tempat atau dekat dengan penuangannya. Zat tambahan yang digunakan adalah CaCl2, Ca(NO3)2 dan NaNO3. Namun demikian, lebih dianjurkan menggunakan yang nitrat, karena penggunaan khlorida dapat mempercepat terjadinya karat pada penulangan.
(https://sipil.ft.uns.ac.id/?p=853)
Comments
Post a Comment